Senin s.d Kamis 07.30 s.d 14.45 WIB, Jumat 07.30 s.d 11.00 WIB Jl. Ronggolawe Barat 2 - Semarang
Berita

Makna Mendalam Tradisi Kembulan Warga Gisikdrono pada Malam 10 Muharram

Makna Mendalam Tradisi Kembulan Warga Gisikdrono pada Malam 10 Muharram

Semarang, 24 Juni 2026 – Semangat kebersamaan dan upaya pelestarian budaya tradisional terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Kota Semarang. Menjaga warisan tradisi luhur merupakan salah satu langkah terbaik yang bisa masyarakat tempuh untuk merawat fondasi persaudaraan dan memperkuat identitas bangsa di era modern. Nilai-nilai kehidupan yang guyub rukun, laras, dan mulya tampak begitu nyata dalam keseharian warga Kecamatan Semarang Barat.

Memasuki momen sakral peringatan Malam 10 Muharram, masyarakat setempat menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang sangat tinggi. Camat Semarang Barat, Bapak Ronny Tjahjo Nugroho, S.Sos., M.M., gadir langsung bersama seluruh warga RW 8, Kelurahan Gisikdrono, untuk menggelar tradisi budaya luhur pada malam tadi. Mereka secara bersama-sama mengisi kegiatan penuh makna ini dengan agenda utama berupa doa bersama dan tradisi makan komunal yang warga lokal sebut dengan istilah kembulan.

Nuansa Spiritual dalam Balutan Pakaian Adat Tradisional

Warga dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga sesepuh desa, hadir memeriahkan acara peringatan Malam 10 Muharram ini. Mereka dengan bangga mengenakan pakaian adat tradisional yang rapi dan serasi. Selama rangkaian acara berlangsung, seluruh warga secara khusyuk melantunkan doa-doa keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka memohon limpahan keberkahan, kedamaian lingkungan, serta kelancaran untuk segala urusan kemasyarakatan yang berjalan di lingkungan RW 8 Gisikdrono.

Perpaduan harmonis antara nuansa spiritual keagamaan yang kental dengan keindahan budaya Jawa sukses memancarkan keteduhan yang luar biasa. Suasana damai nan tenteram sangat terasa menyelimuti seluruh wilayah Kelurahan Gisikdrono. Momen ini membawa ketenangan batin yang mendalam bagi setiap individu yang hadir dan berpartisipasi langsung dalam acara sakral tersebut.

Tradisi Kembulan sebagai Simbol Kesetaraan Sosial

Setelah sesi doa bersama usai, panitia melanjutkan acara dengan tradisi makan bersama atau kembulan yang selalu menjadi ikon kebersamaan masyarakat Jawa. Tradisi luhur ini mengusung prinsip hidup "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi." Ratusan warga duduk melingkar dengan santai dan menikmati hidangan lezat bersama-sama langsung dari satu nampan besar.

Tradisi makan bersama ini sama sekali tidak sekadar bertujuan untuk mengenyangkan perut para pesertanya. Lebih jauh dari itu, kembulan membawa makna filosofis yang sangat mendalam bagi kehidupan bermasyarakat. Aktivitas komunal ini menjadi simbol nyata runtuhnya sekat-sekat sosial dan perbedaan status ekonomi di dalam masyarakat. Melalui momen kembulan, warga secara aktif memupuk rasa saling mengasihi, mempererat tali persaudaraan, dan menguatkan semangat gotong royong antar-tetangga di lingkungan Gisikdrono.

Harapan Pemerintah untuk Masa Depan yang Guyub dan Rukun

Dalam kesempatan istimewa tersebut, Camat Semarang Barat, Bapak Ronny Tjahjo Nugroho, S.Sos., M.M., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh tokoh masyarakat beserta warga Kelurahan Gisikdrono. Beliau merasa sangat bangga karena warga setempat terus konsisten nguri-uri atau melestarikan kebiasaan baik ini di tengah derasnya laju modernisasi perkotaan.

Pemerintah Kecamatan Semarang Barat sangat berharap agar kegiatan positif seperti ini dapat terus masyarakat laksanakan secara rutin pada tahun-tahun mendatang. Semoga wilayah Kelurahan Gisikdrono dan seluruh wilayah Kecamatan Semarang Barat senantiasa mendapatkan berkah melimpah berupa kedamaian hati, kesehatan yang prima, dan tingkat keguyuban warga yang tidak pernah putus sampai ke generasi-generasi penerus selanjutnya.

Savira AWP