Aliran Sungai Karangayu yang membelah kawasan Kecamatan Semarang Barat kini mulai ditata secara lebih serius. Sungai yang selama ini kerap menjadi jalur lintasan sampah dari kawasan hulu, tidak lagi dibiarkan membawa “oleh-oleh” limbah rumah tangga ke wilayah hilir. Upaya ini dilakukan sebagai langkah pencegahan banjir yang kerap menghantui warga, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
Pada Senin (12/01/2026) siang, Kecamatan Semarang Barat mulai memasang lima panel trash barrier yang dipasang melintang di Sungai Karangayu. Meski pemasangan masih berlangsung, harapan akan sungai yang lebih bersih dan aliran air yang lancar sudah mulai tumbuh. Trash barrier ini berfungsi untuk menjaring sampah agar tidak terbawa arus lebih jauh dan menyumbat saluran penting di hilir.
Camat Semarang Barat, Bapak Elly Asmara, S.STP, MM, turun langsung ke lokasi untuk memantau sekaligus ikut dalam proses pemasangan. Ia menjelaskan bahwa pemasangan trash barrier merupakan bagian dari strategi pencegahan banjir yang melengkapi upaya penanganan dari sisi infrastruktur.

Menurutnya, selain normalisasi sungai dan perbaikan saluran, pengendalian sampah menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Metode trash barrier sendiri sudah banyak diterapkan di berbagai daerah, namun Kecamatan Semarang Barat memilih untuk memulainya secara bertahap dengan Sungai Karangayu sebagai titik awal.
Sungai Karangayu selama ini dikenal rawan dipenuhi sampah, baik dari permukiman padat di sepanjang bantaran sungai maupun dari aktivitas Pasar Karangayu. Sampah-sampah tersebut sering kali terbawa hingga ke rumah pompa dan kolam penampungan air sebelum akhirnya dialirkan ke Sungai Banjir Kanal Barat. Kondisi ini berisiko menyebabkan sumbatan yang dapat memicu banjir.
Trash barrier yang dipasang memiliki lebar sekitar lima hingga enam meter, disesuaikan dengan bentang sungai. Sampah yang tertahan nantinya akan dievaluasi dan diangkut secara berkala. Uji coba ini akan dipantau secara intensif, khususnya pada hari-hari awal setelah pemasangan.

Apabila hasilnya efektif, program ini akan dijadikan sebagai proyek percontohan. Ke depan, pemasangan serupa direncanakan di aliran sungai lain yang bermuara ke Sungai Banjir Kanal Barat, seperti Sungai Semarang Indah dan Sungai Ronggolawe. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi permasalahan sampah yang serupa.
Meski demikian, Camat menegaskan bahwa trash barrier bukanlah solusi utama. Perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi faktor terbesar penyebab banjir. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan agar sungai tidak lagi dijadikan tempat pembuangan sampah.
Dengan prediksi curah hujan yang masih tinggi pada Januari hingga Februari, sinergi antara upaya teknis dan kesadaran warga menjadi kunci. Sungai yang bersih bukan hanya soal keindahan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan kawasan dari ancaman banjir yang berulang.