Semarang – Suasana penuh antusiasme mewarnai Gedung Penerbit Erlangga pada Rabu, 4 Maret 2026. Ratusan pendidik dan orang tua murid berkumpul untuk menghadiri acara Kajian Khusus Ramadhan (KURMA). Forum silaturahmi ini berjalan lancar berkat kolaborasi seluruh lembaga pendidikan anak usia dini, yang mencakup TK, KB, TPA, dan PP se-Kecamatan Semarang Barat.
Acara istimewa ini menghadirkan Bunda PAUD Kecamatan Semarang Barat, Ibu Femega Dian Putriani, S.E. Dalam kesempatan tersebut, beliau membagikan berbagai pesan inspiratif mengenai pentingnya pendidikan karakter, ketahanan keluarga, dan sinergi yang kuat antara pihak sekolah dengan orang tua.
Menjaga Kesehatan Mental dan Kemandirian Pangan

Sebagai pembuka kajian, Ibu Femega mengajak seluruh peserta untuk terus memelihara pola pikir yang baik. Beliau menegaskan bahwa seorang muslim harus senantiasa menjaga mental yang positif dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Mental yang sehat ini akan sangat berdampak pada pola pengasuhan anak yang harmonis di rumah.
Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya persiapan finansial dan logistik keluarga. Setiap rumah tangga perlu menyiapkan strategi khusus guna menghadapi situasi yang tidak terduga. Beliau mencontohkan langkah konkret seperti menyisihkan pendapatan untuk tabungan masa depan. Lebih lanjut, beliau memotivasi masyarakat untuk memulai urban farming atau pertanian perkotaan sebagai upaya menciptakan ketahanan pangan secara mandiri dari pekarangan rumah.
Sinergi Pendidik dan Orang Tua dalam Membentuk Karakter

Dalam sesi edukasi pengasuhan, Bunda PAUD Kecamatan Semarang Barat ini memberikan pesan khusus kepada para orang tua murid. Apabila orang tua sudah memutuskan dan memilih sebuah lembaga pendidikan, mereka wajib menaruh kepercayaan seratus persen kepada para pendidiknya. Kepercayaan ini menjadi fondasi utama agar proses belajar mengajar dapat berjalan maksimal.
Beliau juga mengingatkan bahwa setiap orang tua pasti ingin memberikan fasilitas yang terbaik bagi buah hatinya. Namun, ekspektasi tersebut harus selalu menyesuaikan dengan minat, bakat, dan kapasitas masing-masing anak. Orang tua tidak boleh memaksakan kehendak yang justru membebani psikologis anak.
Untuk memperjelas konsep ini, Ibu Femega menggunakan analogi yang sangat menyentuh. Beliau mengibaratkan anak sebagai sebuah tanaman. Guru di sekolah berperan penting menanam benih kebaikan, sementara orang tua di rumah bertugas menyiram dan merawatnya setiap hari. Oleh karena itu, guru dan orang tua wajib berjalan beriringan dan saling sinkron dalam mendidik anak-anak.
Kecerdasan Akademik Harus Seimbang dengan Kematangan Emosional

Menutup kajian, beliau menyoroti fenomena pendidikan masa kini yang sering kali hanya mengejar nilai akademis semata. Beliau menegaskan bahwa anak yang pintar saja belum cukup untuk menghadapi dunia nyata. Kecerdasan intelektual tentu harus berdampingan dengan kematangan emosional. Hal ini sangat berkaitan erat dengan adab, etika, dan perilaku anak saat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Pendidikan yang berfokus pada adab akan menghasilkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki empati dan akhlak mulia. Acara Kajian Khusus Ramadhan ini pun berakhir dengan sesi tanya jawab yang interaktif, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta yang hadir.